Total Tayangan Halaman

Selasa, 01 Januari 2019

Kecubung.

Jadi, malam ini aku iseng melihat rekaman lama yang mendokumentasikan beberapa perjalanan kita. Tidak banyak memang, namun berhasil melambungkan bagian lobus frontalisku pada nostalgia.

Darimu aku belajar bahwa keinginan kita akan selalu terbentur oleh keinginan orang lain dan kewajiban kita sebagai anak, terlebih kita sama sama anak sulung. Kamu menahan. Selalu berusaha menahan emosimu pada banyak hal yang tidak membuatmu nyaman, hasratmu akan hal hal menyenangkan seperti orang lain, namun tidak bagi egomu untuk tetap kuat dan maju dari keadaanmu sekarang.

Terkadang orang mungkin akan salah mengartikan cara penyampaianmu yang bermaksud baik, seperti saat kamu menyuruhku untuk sekadar duduk dibanding berdiri atau memakai helm saat berkendara. Berkali kali aku bilang padamu bahwa ada cara lain yang lebih baik. Tapi kamu mengelak, bahkan kadang bertingkah seakan menerima namun membantah dan mempertahankan yang kamu lakukan sudah benar menurutmu.

Kamu senang jika ada orang yang peduli padamu tapi sisi lain dirimu pun khawatir apa kamu bisa memberikan hal yang baik pula untuk orang itu. Bagian dari dirimu yang aku senangi adalah kamu selalu mencoba untuk jujur pada orang lain dan pada dirimu sendiri. Kamu sadar kapasitas dirimu dan tidak berupaya untuk memaksakan. Mungkin itu yang kadang membuat aku berpikir bahwa kamu terlalu cuek, menyebalkan dan datar. Tapi aku selalu suka saat membuatmu kegelian di atas motor juga saat kamu menasihatiku.

Oh ya satu hal lagi, aku senang saat kamu percaya padaku dan mulai bercerita mengenai keresahanmu. Terakhir aku minta maaf padamu jika yang aku tulis mungkin tidak sesuai dengan keadaanmu dan apa yang kamu rasakan. Awalnya aku ingin menulis lebih banyak hal, tapi pasti akan semakin banyak kekeliruan yang kamu rasakan dan akan muncul perdebatan panjang (aku suka sebenarnya saat kamu mulai mengajak berdebat akan hal apapun). Jadi aku cukupkan sampai sini. Aku hanya ingin kamu tau bahwa aku sangat terkejut saat kamu memberikan buku padaku.

Sampai jumpa di lain kesempatan saat kamu akan menunaikan janjimu nantinya.





Ps. aku tau kamu gak akan suka karena penggunaan bahasa yang baku ini dan komentarmu pasti akan "lebay banget".

Selasa, 05 Juni 2018

Tuhan Marah

Tuhan, hatiku resah
Aku penasaran, akan kemana kau tuntun aku
Akan bermuara di manakah perjalanan ini
Banyak pekerjaan yang kutinggalkan
Banyak kewajiban yang belum ku selesaikan
Bahkan kebutuhanku pun belum tercukupkan
Aku resah mengapa akhir akhir ini kau beri aku banyak nikmatMu
Apakah ini adalah salah satu jawaban dari doa-doa yang pernah kupanjatkan dahulu?
Apakah ini adalah salah banyak dari pengabulan yang ku pinta dahulu?
Maaf Tuhan kalau aku malah kufur
Karena lupa dan mungkin tampak tak bersyukur
Aku hanya takut Tuhan
Aku sungguh takut
Bahwa di dalam banyaknya nikmat dan rezeki yang telah Kau berikan, tak ku dapat satupun rahmatMu
Bahwa di dalam banyaknya kesempatan dan harapan yang muncul tak ku dapatkan ridhoMu
Tuhan ampuni aku
Tuhan ridhoi aku
Tuhan kasihi aku
Bila Kau marah padaku tampakkan saja
Acuhkan saja aku agar aku terus berkabar
Hukum saja aku agar aku terus tegar
Atau tegurlah aku agar aku terus sadar
Maaf Tuhan jika aku hanya meminta tanpa mau sadar sendiri
Karena itulah kelemahanku
Karena itulah ketidakberdayaanku
Dan karena itulah kesombonganku
Maka dari itu Tuhan
Maafkan aku yang akan selalu bergantung padaMu
Maafkan aku yang akan selalu berharap padaMu
Maafkan aku yang akan selalu meminta padaMu

Tuhan terima kasih detik ini kau telah menyadarkanku
Bahwa Kau memang sedang kesal dengan tingkah lakuku.

*Ranggajati, 11.11 WIB

Selasa, 15 Mei 2018

Pengabdian di Timur Indonesia (3)

Kenangan Indah di Tual

Sore memiliki makna tersendiri bagi kami tim ENJ di Desa Lebetawi, karena itu adalah waktu kami melepas penat sejenak setelah seharian berkutat dengan berbagai program dan masalah. Kami menghabiskan waktu di berenang di pantai, bercengkrama dengan warga desa, memancing ikan dan keliling desa bermain atau mencari makan ke desa sebelah.




Warga desa sangat baik dan menjamu kami seakan-akan kami memang sudah menjadi bagian dari mereka. Setiap pagi pasti sarapan akan selalu tersaji disiapkan oleh para ibu bergiliram tiap rumah. Mereka tanpa mengeluh dan mengharap imbalan. Walaupun terkadang piring atau gelas mereka tidak kembali dengan utuh, karena kami terlalu sembrono dan mereka memaklumi.
Memancing di jembatan untuk dijadikan lauk makan bersama. Mencari kelapa di siang hari dan dibuat es untuk diminum bersama. Anak-anak yang selalu bermain bola dan berkelahi satu sama lain. Mereka selalu punya cara sendiri membuat kami kesal, nyaman, dan tertawa setiap hari.






Melihat matahari terbenam di jembatan, bermain di taman baca dan rumah pohon, kerja bakti setiap hari Jumat, senam pagi dan berbagai kegiatan yang tidak dapat saya jabarkan satu persatu di dalam tulisan ini menjadi satu kesatuan kenangan indah di Desa Lebetawi.


                Saya teringat pula oleh tingkah geng kecil bentukan saya yang terdiri dari empat anak perempuan yaitu Julia Tolakoli, Risna Renleuw, Indriwati Renleuw, dan satu bermarga Rengur. Mereka selalu kompak dan saling mendukung satu sama lain. Ada pula Hendrik si Hercules dan Adinaya si kepala batu. Mereka senang berkelahi tetapi sangat antusias untuk belajar. Semoga generasi mereka dapat membangun desanya menjadi lebih baik di masa depan dan membuat Desa Lebetawi mengulang kembali masa kejayaannya.
Masa yang paling terkenang juga adalah keluarga mamah piara saya. Mamah yang selalu baik dan selalu direpotkan, Bapak yang selalu mendukung dan membantu kami, Kak Ayu yang sudah menjadi kakak saya selama disana juga Amin dan Rudi yang selalu menolong dan lucu. Terimakasih atas semua keramahan, kebaikan, kesabaran, masakan, sarapan dan semua yang sudah kalian berikan.



Sebenarnya ada banyak sekali kenangan indah yang terjadi selama kami disana, baik itu antara kami dengan warga desa maupun di kalangan tim kami sendiri. Namun, hal itulah yang menjadi perekat diantara kami dan alat untuk saling memahami kedua belah pihak yaitu kami dan warga.
Semoga apa yang sudah kami lakukan disana dapat memberikan kesan baik dan menjadi lebih baik untuk dikembangkan kembali oleh warga. Selain itu kami juga berharap semoga segala kebaikan yang sudah diberikan oleh warga desa kepada kami dapat dibalas dengan kebaikan yang lebih. Saya pribadi banyak mengucapkan terima kasih kepada semua warga Desa Lebetawi dan berbagai kalangan yang sudah membantu demi terlaksananya program kami. Kami mohon maaf jika masih ada kesan buruk atau program yang belum terlaksana dengan baik.



















Sekali lagi terima kasih, Lebetawi.


Pengabdian di Timur Indonesia (2)

Sampai di Tempat Tujuan


Paginya, pukul 09.00 WIT kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Kota Tual. Ketika sampai kami sudah disambut oleh beberapa orang dari dinas Kota Tual yang sempat kami hubungi selama di Jakarta. Setelah menurunkan barang bawaan dari kapal, kami berfoto sebentar dan segera melanjutkan perjalanan menggunakan mobil yang telah disiapkan oleh dinas menuju tempat tujuan kami yaitu Desa Lebetawi.
Jarak yang ditempuh dari pelabuhan hingga sampai di desa kurang lebih satu jam. Melewati beberapa desa diantaranya Desa Langgur, Desa Mangon dan Desa Dullah. Desa Lebetawi sendiri adalah desa kecil yang dipimpin oleh satu Kepala Desa yang menaungi empat Rukun Tetangga atau RT.
Sepanjang perjalanan saya tak henti-hentinya mengucap syukur bahkan terharu, karena pemandangan laut yang indah. Air lautnya sangat bening dan terlihat dengan jelas pemisahan warna atau gradasi dari warna hijau muda, hijau tua dan biru tua. Tak hanya saya, teman-teman yang lainpun merasakan hal yang sama dengan saling berbincang mengenai keindahan lautnya yang bahkan tidak kami temui di Jakarta.


“Sebentar lagi kita sampai di Desa Lebetawi.” seru salah seorang pegawai dinas. Tak lama kemudian terlihat sebuah gapura serta tulisan yang terbuat dari semen yang bertuliskan “Desa Lebetawi”. Di sampingnya sudah berkumpul warga yang rupanya sudah siap menyambut kami, dilihat dari pakaian dan atribut yang dikenakan oleh sekelompok anak laki-laki dan perempuan.
Benar saja, begitu kami turun dari mobil mulailah pertunjukkan tarian adat yang dibawakan oleh kelompok anak laki-laki. Mereka menari tarian panah namanya. Dengan semangat dan lincah mereka menari. Kemudian, setelah tarian panah dilanjut oleh tarian adat khas Desa Lebetawi yang dipertunjukkan oleh kelompok anak perempuan diiringi tabuhan rebana ibu-ibu.


Tak cukup sampai disitu, setelah tari-tarian adat kami diberi kalungan bunga oleh pejabat desa setempat. Sungguh rasanya seperti tamu kehormatan. Padahal kami belum melakukan apa-apa untuk desa ini. Namun, mereka sudah begitu baik dan hangat menyambut kedatangan kami. Hal ini pulalah yang membuat kami semakin bersemangat untuk menjalankan program-program kami kedepannya.
Setelah penyambutan tersebut, kami diajak makan ke rumah Kepala Desa Lebetawi, Gawi Rengur, S.Pd. ditemani oleh anak sulung dan istrinya kami diberi wejangan dan berbincang terkait keadaan desa, kebiasaan warga serta beberapa hal lain yang nantinya akan menjadi pertimbangan dan penunjang program kami selama di Desa Lebetawi.


Dalam perbincangan ini beliau juga menyatakan kesediaannya untuk ikut mensukseskan program kami dan menyambut baik apa-apa saja yang akan kami lakukan. Selain itu beliau pun menyanggupi untuk menyediakan makanan bagi kami selama di desa. Hal ini tentu saja membuat kami merasa tidak enak karena akan merepotkan. Namun, beliau menegaskan bahwa itu merupakan kewajiban beliau untuk menyambut tamu. Pada akhirnya kami makan di tempat beliau hanya dua minggu dan sisanya seminggu terakhir kami menyiapkan semuanya sendiri.
Selesai dari rumah Kepala Desa kami diantar menuju tempat atau tempat peristirahatan kami selama di desa. Kami tersebar di empat rumah berbeda dengan rincian tiga rumah diisi oleh perempuan yang masing-masing rumah akan dihuni dua orang dan sisa satu rumah akan di khususkan untuk para laki-laki sekaligus menjadi basecamp.
Saya bersama teman saya Ika Wahyuni tinggal serumah. Rumah yang kami tempati merupakan rumah keluarga keturunan Bugis yang terdiri dari seorang bapak (saya lupa namanya), seorang mamah piara (sebutan disana bagi mamah angkat selama KKN, saya juga lupa namanya), seorang kakak perempuan yang bekerja sebagai bidan di sebuah Rumah Sakit (biasa saya panggil Kak Ayu) dan dua orang anak laki-laki (Amin dan Rudi).


Saya dan Ika ditempatkan di kamar Kak Ayu. Alhamdulillah rumahnya begitu nyaman apalagi ditambah dengan keadaan keluarga yang sangat baik dan ramah sehingga saya langsung merasa nyaman dan seperti di rumah sendiri.


Keesokan paginya, saya dan Ika sudah disuguhi oleh camilan berupa pisang goreng yang digoreng menggunakan tepung singkong, biasa disebut kasbi dan segelas teh manis hangat. Rupanya kebiasaan warga disini adalah mereka harus sarapan sebelum memulai hari. Minimal dengan camilan dan minum teh hangat.
Selesai sarapan dan berbincang sebentar dengan mamah, kami segera berkumpul di basecamp untuk rapat mengenai pembagian jobdesk. Hasil rapat adalah kami terbagi menjadi dua yaitu ada yang bertugas untuk sosialisasi keliling rumah warga dan satu lagi pergi sosialisasi ke rumah pejabat desa setempat. Disini kami menegaskan bahwa tidak boleh ada yang pulang ke basecamp sebelum waktu shalat ashar tiba.
Saya mendapat tugas untuk berkeliling sosialisasi ke rumah warga di sekitaran RT 03. Tak sendiri, saya ditemani oleh Amimatul Iklilah yang akrab disapa Ami dan Muhammad Daniel Halim Badran yang biasa saya panggil Bang Daniel. Nantinya Bang Daniel ini akan mendapat panggilan sendiri dari warga desa yaitu Deidan yang dalam bahasa Kei artinya adalah malam.
Setelah bertanya ke warga mana saja wilayah yang masuk ke dalam RT 03 maka kami langsung menuju rumah terdekat yang dapat kami jangkau yaitu rumah Ibu Ani (saya sedikit lupa namanya). Ibu ini merupakan seorang janda yang tinggal bersama adik perempuannya dan anaknya. Almarhum suaminya adalah mantan ketua RT periode sebelum RT yang sekarang.
Ketika baru sampai kami sudah disambut dengan senyum ramah. Obrolan kami pun berjalan dengan hangat mengenai kebiasaan warga dan makanan khas Desa Lebetawi yaitu sayur sirsir[1], ikan bakar, embal[2] dan colo-colo[3].
Tak hanya berhenti di satu rumah saja, setelah kurang lebih satu jam kami melanjutkan tugas sosialisasi kami ke rumah-rumah lainnya hingga waktu shalat ashar tiba.  Kami pun segera kembali ke basecamp untuk melaporkan informasi apa saja yang kami dapat selama sosialisasi yang nantinya akan kami masukan untuk kesesuaian dan pematangan program.
Alhamdulillah hasil sosialisasi ke warga kami semua mendapat respon yang sangat baik, bahkan kepala desa beserta jajarannya dan pejabat desa yang lain menyatakan senang dan bersedia untuk membantu kelancaran program-program yang akan kami jalankan selama berada disini. Selain itu pula terdapat beberapa hal yang kami tambahkan ke dalam program kami seperti terkait program 17 Agustus dan di bidang pengajaran serta pengembangan ekonomi kreatif.

Pelaksanaan Program
Setelah pematangan program kemarin, hari selanjutnya kami segera melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang sebelumnya sudah diberikan kepada kami berdasarkan hasil rapat. Minggu pertama program kami adalah sosialisasi, senam sehat, melakukan Forum Grup Discussion (FGD) bersama para pejabat desa untuk pemaparan program, mengadakan kelas inspirasi untuk anak-anak sekolah dasar, mengadakan pelatihan sablon, pengadaan tong sampah, tinjauan TPA serta audiensi ke berbagai dinas di Kota Tual. Untuk saya pribadi mendapat tugas menjadi penanggung jawab dalam kegiatan pengajaran bahasa Inggris yaitu English for Fun dan membantu kegiatan di Taman Pendidikan Al-Qur’an atau TPA.
Selain itu, saya mendapat juga tambahan untuk sosialisasi lebih jauh terkait program ke tiap ketua RT di desa. Oleh karena itu sedari pagi saya sudah berkeliling ke rumah RT 01, 02, 03 dan 04. Tiap ketua RT punya respon yang berbeda dalam menyikapi kegiatan atau program yang akan kami laksanakan. Namun, semuanya ada pada satu kesimpulan yaitu akan ikut serta membantu kami jika diperlukan.
Selesai berkeliling rumah tiap RT, saya segera melakukan tugas saya yang utama yaitu mencari informasi terkait kegiatan TPA di desa. Menurut informasi yang saya peroleh dari mamah piara, di Desa Lebetawi terdapat tiga rumah yang biasa dijadikan sebagai tempat TPA, yaitu rumah Ustadzah Fatimah Serang, Ustad Jufri dan Bapak Pasaribu. Kegiatan TPA ini berlangsung setiap pukul empat sore.
Akhirnya saya mendatangi satu persatu ketiga rumah tersebut untuk mengetahui secara lebih jelas ada berapa anak yang datang mengaji, bagaimana kegiatan TPA biasa berlangsung dan sekaligus pemberitahuan dan permintaan izin terkait program kami untuk menjadikan kegiatan TPA ini terfokus pada satu tempat dengan dipindahkan ke masjid dan diganti jamnya menjadi setelah shalat maghrib. Hal ini dikarenakan agar kegiatan TPA terpusat dan dapat kami kontrol serta bantu pengajarannya.
Untungnya mereka menerima dengan senang hati dan akan ikut hadir datang ke masjid, untuk selanjutnya kegiatan TPA ini berjalan dengan baik setiap selesai shalat maghrib. Anak-anak juga tetap antusias untuk datang mengaji. Kami pun mengatur jadwal bergilir untuk mengajar TPA setiap hari kecuali pada malam Jum’at dan malam Minggu, dikarenakan pada malam tersebut diadakan kegiatan tahlilan dan bioskop pulau (salah satu program unggulan kami).
Malamnya kami biasa mengadakan evaluasi untuk meninjau progress yang telah kami lakukan hari itu sekaligus menentukan tugas selanjutnya untuk esok hari. Minggu pertama kami diisi dengan banyak sosialisasi program dan silaturahmi ke rumah-rumah warga desa serta menjalin pertemanan dengan anak-anak juga pemuda-pemudi desa.
Banyak sekali hal-hal baru yang kami temui setiap harimya. Permasalahan yang timbul juga beragam. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk membuktikan kekuatan eksistensi kami dan bukti pengabdian kami selama di desa selain menjalankan program-program yang sudah dibuat.
Minggu selanjutnya kami mengadakan kelas dakwah dan latihan baris berbaris untuk kegiatan 17 Agustus, ada pula kegiatan pelatihan komputer dan desain grafis. Pada minggu kedua ini difokuskan pada pengembangan program di minggu sebelumnya serta penambahan beberapa program baru.


 Saya sendiri mengadakan sosialisasi kegiatan English for Fun yang ditugaskan menjadi tanggung jawab saya. Di desa, anak-anak dan para pemuda masih sangat awam terkait bahasa Inggris. Oleh karena itu Kepala Desa sangat berharap agar program ini dimaksimalkan. Maka saya pun membuat jadwal kegiatan English for Fun setiap sore hari.
Untungnya, anak-anak merasa senang menerima hal baru. Dengan berbekal video dan permainan menarik, saya membuat anak-anak dapat mengerti dengan mudah penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Minggu selanjutnya kami mengadakan audiensi terkait pengembangan wisata di Desa Lebetawi, yaitu pantai wisata yang bernama Pantai Difur. Sebenarnya ada berbagai tempat wisata pantai di Tual, tapi Desa Lebetawi mempunyai tempat wisata yang dikelola sendiri seperti Difur ini. Audiensi Difur dilakukan karena terjadi perebutan hak antara Dinas Pariwisata, pihak pengelola dan pejabat desa. Oleh karenanya, kami sebagai mahasiswa menjadi jembatan antara ketiganya dalam bidang advokasi agar tercapai suatu kesepakatan. Namun, hingga tulisan ini dibuat masalah Difur masih belum mencapai titik temu.
Program yang kami lakukan selanjutnya adalah kegiatan perayaan 17 Agustus yang menurut saya mempunyai kesan tersendiri. Perayaan 17 Agustus ini merupakan pertama kalinya diadakan secara meriah di desa. Biasanya tidak ada perayaan apa-apa. Warga hanya mengadakan upacara di kota dan di SD, itupun hanya bagi kalangan pelajar. Akan tetapi tahun ini kami membuat sejarah dengan mengadakan upacara di Desa Labetawi untuk pertama kalinya.





Alhamdulillah warga sangat senang akan hal tersebut. Selain itu kami mengadakan berbagai perlombaan dan membentuk kepanitiaan yang melibatkan para pemuda desa. Antusiasme warga dapat kami rasakan ketika mereka ramai mendaftarkan diri serta kelompoknya untuk mengikuti lomba yang diadakan.
Di minggu terakhir, kami mengevaluasi kembali program apa saja yang sudah terlaksana dengan baik. Ada beberapa pengembangan program lamjutan seperti pelatihan handcraft dan sablon yang diminati warga. Warga dan mahasiswa saling bersinergi untuk membuat sektor ekonomi kreatif di Desa Labetawi dapat berkembang. Sehingga pelatihan seperti itu diadakan tidak hanya sekali dan warga yang mengikuti pelatihan pun sangat banyak.
Minggu terakhir ini juga menjadi minggu sibuk bagi kami karena terdapat dua program besar yaitu sunatan dan pengobatan massal serta penutupan 17 Agustus. Sunatan dan pengobatan massal melibatkan dua desa, Puskesmas dan Dinas Kesehatan sehingga harus terus di follow up agar dapat berjalan dengan baik. Selain dua kegiatan itu, penutupan 17 Agustus ini juga menjadi sorotan karena akan mengundang Walikota Kota Tual sekaligus menutup ekspedisi kami di Desa Lebetawi sehingga harus memberikan kesan bagi warga.


Pada akhirnya, dengan mengucap puji syukur semua kegiatan itu dapat berlangsung dengan baik dan memuaskan. Walaupun terdapat berbagai kejadian-kejadian dan konflik kecil, tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang dan justru menjadi bumbu penyedap.



[1] Makanan khas di Kota Tual berupa sayur daun pepaya dicampur santan
[2] Makanan khas Kota Tual berupa singkong yang diparut dan dikeringkan sarinya
[3] Sebutan untuk sambal yang berisi kecap, bawang, cabai dan tomat

Pengabdian di Timur Indonesia



               
Awal Mula
Nama saya Fairuz Nisrina, jurusan Akuntansi semester 6. Dalam tulisan ini saya akan menceritakan beberapa pengalaman, kisah seru perjalanan dan cerita indah masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya. Semuanya bermula dari sebuah program yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman (Kemenko maritim) yaitu, Ekspedisi Nusantara Jaya atau disingkat ENJ.
Bulan Maret saya diajak oleh teman saya Rheza Khabil Farozi untuk mengikuti kegiatan ini. Awalnya kami hanya berjumlah 10 orang yang terdiri dari berbagai jurusan dan semester. Namun, pada pertengahan Mei kami sepakat untuk menjadikan ENJ sebagai pengganti KKN dengan pertimbangan banyaknya anggota ENJ yang berasal dari semester 6. Maka dari itu, mulailah kami merekrut beberapa teman lainnya hingga bertambah anggota keseluruhan sebanyak sembilan belas orang (15 orang peserta KKN dan 4 orang bukan peserta KKN) dengan rincian:



  1.  Rheza Khabil Farozi, Jurusan Jurnalistik Semester 6 (Koordinator program)
  2. Mohammad Daniel Halim Badran, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Semester 8
  3. Tafrichul Fuady Absa, Jurusan Aqidah dan Filsafat Semester 6
  4. Abdul Aziz Hakim, Jurusan Dirasat Islamiyah Semester 6
  5. Solihin, Jurusan Aqidah dan Filsafat Semester 6
  6. Ahmad Nabil Bintang, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Semester 6
  7. Gatra Rialdy Putra, Jurusan Manajemen Dakwah Semester 6
  8. Andhika Ripwan, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Semester 6
  9. Ahmad Fauzi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran islam Semester 6
  10. Aryo Prasojo, Jurusan Jurnalistik Semester 6
  11. Muhammad Zakki Nurdin, Jurusan Ekonomi Syariah Semester 6
  12. Luthfi Ardiansyah, Jurusan Hukum Keluarga Semester 4
  13. Khairan Abdul Mahmud, Jurusan Hukum Pidana Islam Semester 4
  14. Ika Wahyuni, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Semester 6
  15. Rika Kamila, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Semester 6
  16. Khairina Annisa, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Semester 6
  17. Amimatul Iklilah, Jurusan Jurnalistik Semester 6
  18. Nurlaila Hasna, Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Semester 6
Banyak sekali persiapan yang perlu kami siapkan sebelum berangkat. Langkah awal yang dipersiapkan adalah penentuan lokasi tujuan, informasi mengenai daerah tujuan dan keadaan di tempat yang akan kami tuju, kemudian program apa saja yang akan dijalankan serta transportasi dan akomodasi selama perjalanan hingga akhir perjalanan pulang.
Setelah melakukan pencarian dan perdebatan, kami menentukan bahwa lokasi yang akan dituju adalah wilayah Maluku tepatnya di Kota Tual, Desa Lebetawi. Selanjutnya, kami mencari informasi terkait tempat tujuan dan menghubungi dinas serta pejabat setempat untuk langkah pemberitahuan untuk menunjang kelancaran kegiatan kami disana nantinya.
Akhirnya, setelah semua persiapan dirasa cukup pada tanggal 24 Juli 2017 kami berangkat menuju Maluku melalui jalur laut dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perjalanan jalur laut ini ditempuh dalam waktu enam hari dengan empat kali transit, yaitu di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Anging Mamiri Makassar, Pelabuhan Bau Bau dan Pelabuhan Kota Ambon.

Di Kapal Dobonsolo



Kapal yang mengantar kami ke Ambon bernama Kapal Dobonsolo. Di dalam kapal ini kami melalui masa-masa yang bisa dibilang sangat terkenang. Lima hari terombang-ambing di atas kapal sebenarnya tidak banyak kegiatan yang dapat kami lakukan, kami hanya bisa tidur, makan, bermain permainan di gawai kami dan berkeliling kapal. Terkadang kami mengobrol dengan beberapa penumpang sembari sosialisasi tentang kegiatan ekspedisi kami dan sempat sekali beberapa dari kami mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan di mushola kapal. Kami saling menghibur satu sama lain demi menghilangkan rasa penat dan bosan selama perjalanan.

Bosan memang karena rutinitas selama lima hari melulu berkutat pada itu saja. Bahkan di hari ketiga saya mengalami mabuk laut. Kepala pening tidak karuan dan mual, sehingga saya hanya dapat melakukan aktivitas dalam posisi di atas tempat tidur. Rasanya ingin segera sampai atau malah pulang saja ke rumah. Untungnya, teman-teman saya di ENJ ini begitu baik dan peduli sampai mabuk laut saya mulai hilang di hari kelima ketika sampai di Pelabuhan Kota Ambon.

Kenangan Singkat di Ambon
Pada saat perhentian di Ambon kami harus menunggu selama dua hari terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan kembali menuju Kota Tual. Hal ini dikarenakan kami berganti kapal. Dari Ambon menuju Kota Tual itu sendiri membutuhkan waktu selama sehari semalam.
Hari pertama di Ambon kami habiskan dengan beristirahat dan berjalan ke beberapa spot sekitar tempat kami bermalam yaitu di daerah Kebun Cengkeh. Spot yang kami kunjungi seperti Masjid Raya Ambon (masjid tertua di Maluku), pasar sekitar pelabuhan, Gong Perdamaian, Kantor Walikota Ambon, Kantor Gubernur Maluku dan Lapangan Merdeka dimana terdapat ikon tulisan “Ambon Manise”


Hari terakhir kami diajak untuk mengunjungi pantai di daerah Morella. Pantai tersebut biasa disebut Pantai Lubang Buaya, karena terdapat gua karang yang berbentuk seperti mulut buaya. Akses menuju kesana tidak biasa dilalui oleh angkutan umum, sehingga kami harus menyewa mobil. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam dengan disuguhi oleh pemandangan kota Ambon yang indah.
Sesampainya di Pantai saya pribadi agak terkejut karena dalam benak saya terpikir bahwa pantai biasanya terdapat pasir di pesisirnya. Pantai di Morella ini berbeda, karena tidak ada pasir pantai tetapi hanya sedikit karang dan akar tumbuhan di pinggirnya. Namun, air lautnya begitu hijau dan pemandangan di sekitarnya sangat asri. Bahkan pemandangan yang saya lihat di depan mata saya, biasanya hanya dapat saya lihat di internet saja. Di situ saya tersadar betapa indahnya alam Indonesia dan syukur saya panjatkan diberi kesempatan untuk melihatnya secara langsung.






Air laut yang jernih kehijauan membuat beberapa ikan dan terumbu karang terihat jelas ketika kami berenang dan menaiki perahu. Tak hanya itu, penduduk Morella yang ramah juga membuat kami senang dan betah berlama-lama disana hingga tanpa sadar matahari sudah tenggelam. Rasanya tidak cukup hanya berfoto sebentar dan membuat video-video lucu. Semoga akan ada kesempatan di lain waktu untuk kembali lagi ke Pantai Lubang Buaya, Morella.
Keesokan siangnya, pukul sebelas siang kami sudah berada di pelabuhan menanti kapal. Kapal Tidar namanya, kapal yang akan membawa kami menuju tempat tujuan yaitu kota Tual. Pukul dua siang kami berangkat, dan diperkirakan akan sampai esok pagi hari.



Pengalaman di kapal Tidar ini berbeda dengan kapal Dobonsolo, hal ini dikarenakan kami tidak mendapat tempat tidur di dalam ruangan. Sehingga kami harus membuat tempat tidur sendiri menggunakan alas banner dan tidur menggunakan sleepingbag. Bertambah seru lagi ketika tengah malam terjadi hujan. Alhasil beberapa orang bangun bergantian menjaga untuk memastikan bahwa barang dan tas kami tidak basah kuyup oleh hujan.

Ps: To be continue.......

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENERIMAAN DAN PENYALURAN ZAKAT


A.     KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan beribu-ribu nikmat sehingga tugas penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) ini dapat diselesaikan dengan baik. Tak lupa pula shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpah kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang benderang ini dengan ilmu pengetahuan.
SOP ini disusun berdasarkan atas apa yang tertuang dalam PSAK 109 yang mengatur terkait Standar Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah. Selain itu penyusunan SOP ini juga bertujuan dalam rangka peningkatan sistem dan tata kelola manajemen yang lebih baik dalam pengelolaan penerimaan dan penyaluran dana zakat.
Prosedur ini bukan menjadi pengganti namun mungkin baru hanya aan menjadi pelengkap atas sistem dan skea yang sudah ada saat ini. Adapun untuk mendapatkan sesuatu pembaharuan yang lebih baik lagi maka penyusun harus belajar dan mempelajari kembali terkait zakat dan lingkungannya.
Penyusun mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh Dr. Rini, M. Si., Ak., CA. Selaku dosen pembimbing dalam penyusunan SOP ini serta beberapa pihak yang turut membantu.

B.       ZAKAT
B1. Dasar Hukum
a.      Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat (Revisi Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat)
b.     Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Zakat
c.      Keputusan Menteri Agama No. 581 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat dan direvisi dengan Kepmenag No. 373 Tahun 2003 (akan direvisi).
d.     Ikatan Akuntan Indonesia (2011) PSAK No. 109: Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah.
e.      Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.

B2. Masalah Pengelolaan Zakat
a.      Kurang patuhnya masyarakat dalam membayar zakat
b.     Kurangnya pengetahuan umum ZISWAF
c.      Kurang optimalisasi OPZ yang ada baik pada aspek kelembagaan, koordinasi, sumber daya manusia, regulasi, dan pengawasan
d.     Masih ada yang menganggap membayar pajak = membayar zakat
e.      Sistem administrasi zakat lebih buruk daripada administrasi pajak
f.       Sistem informasi yang lemah dan basis data zakat
g.     Manajemen zakat buruk, termasuk pengumpulan, manajemen, dan distribusi.

B3. Penguatan Sistem dan Prosedur Transaksi Organisasi Pengelola Zakat
a.      Sistem Akuntansi
b.     Sistem Pengendalian Internal
c.      Kontrol Lingkungan
d.     Pengendalian Kegiatan
e.      Informasi dan Komunikasi
f.       Pemantauan atau Kontrol Akses ke Sumber Daya Keuangan dan Sistem Verifikasi Data Keuangan
g.     Dokumentasi Transaksi
h.     Catatan Akuntansi
i.       Pemisahan Tugas
j.       Sumber Daya Manusia

C1. Peralatan dan Perlengkapan
a.      Dokumen Pencatatan Awal
b.     Nota/Bukti Transaksi

C2. Tanda Terima Transaksi
a.      Tanda terima pembayaran Zakat (dapat digunakan untuk dikurangi dari penghasilan kena pajak) ke Muzakki
b.     Hibah / Sumbangan (aqad)
c.      Serah Terima / Pengembalian dari Muzakki / Munfiq ke OPZ
d.     Tanda Terima Pengiriman / Pengembalian OPZ ke Mustahik

C3. Catatan Pelaporan Keuangan
1.     JURNAL:
a.   Jurnal Penerimaan Kas
b.   Jurnal Pembayaran Tunai
c.   Jurnal umum

2.     BUKU BESAR:
      a.  Kas Umum
      b.   Sub Ledger Dana Zakat
      c.   Sub Ledger Infaq dan Shadaqah
      d.   Sub Ledger dari aset yang dikelola
      e.   Buku Besar Persediaan
      f.    Buku Besar utang


Laporan Perubahan Dana
DANA ZAKAT
Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20xx

KETERANGAN
JUMLAH
PENERIMAAN DANA ZAKAT

Penerimaan dari muzakki

     Muzakki Entitas (Badan)
xxx
     Muzakki Individual
xxx
Hasil Penempatan Dana Zakat
xxx
Jumlah Penerimaan Dana Zakat
xxx
Bagian Amil atas penerimaan Dana Zakat
xxx
Jml Penerimaan Dana Zakat setelah Bagian Amil
xxx
PENYALURAN
Fakir - Miskin
xxx
Gharim
xxx
Ibnu Sabil
xxx
Muallaf
xxx
Sabilillah
xxx
Riqab
xxx
Jumlah Penyaluran Dana Zakat
xxx
SURPLUS/(DEFISIT)
xxx
Saldo Awal
xxx
Saldo Akhir


C4. Contoh Pencatatan Transaksi Zakat
Penerimaan Zakat
Dr. Kas
Cr. Penerimaan zakat

Penerimaan Non-kas
Dr. Aset non-kas (nilai wajar)
Cr Penerimaan zakat

Fee Penyaluran Zakat yang Ditunjuk Muzakki
Dr. Kas
Cr. Penerimaan dana amil

Penurunan Nilai Aset Bukan Kelalaian Amil
Dr. Penurunan nilai aset
Cr. Aset non-kas

Penurunan Nilai Aset Amil Karena Lalai
Dr. Kerugian penurunan nilai – dana amil
Cr. Aset non-kas

Penyaluran
Dr. Penyaluran dana zakat- dana amil
Dr. Penyaluran dana zakat – non amil
Cr. Kas atau aset non-kas

Biaya Operasional
Dr. Beban- dana zakat
Cr. Kas

Beban Penghimpunan dan Penyaluran
Dr. Beban – dana amil
Cr. Kas

Penyaluran Lewat Amil Lain
Dr. Piutang penyaluran
Cr. Kas

Ketika Sudah Disalurkan oleh Amil Lain
Dr. Penyaluran zakat – dana amil
Cr. Piutang Penyaluran

Pembayaran Ujrah Amil Lain
Dr.Beban – dana amil
Cr. Kas

Penyaluran yang Berupa Aset Tetap Seperti Gedung dan Mobil
Dr. Penyaluran zakat – beban depresiasi
Cr. Akumulasi penyusutan

Ketika Aset Tetap Sudah Selesai Disalurkan
Dr. Akumulasi penyusutan
Cr. Aset tetap